Asal Usul Simbol ♣♦♥♠ Pada Kartu Remi

Share for friends:

Permainan ini adalah permainan yang dikenal di seluruh penjuru dunia — dan hampir setiap daerah di setia ujung negara mengaku-ngaku telah menemukan permainan ini. Orang Cina menceritakan sejarah terpanjang untuk bermain kartu (“game of leaves” dimainkan sejak abad ke-9). Orang Prancis menklaim standardisasi mereka tentang carte à jouer dan pendahulunya, Tarot. Dan Inggris membatah semua klaim tentang penemuan kartu tanpa bukti yang autentik dan tercatat.

Saat ini, publik mungkin tahu cara bermain blackjack atau bridge, tetapi hanya sedikit yang berfikir dan menganggap bahwa setumpuk kartu adalah sebuah seni maha karya dari teknik, desain, dan sejarah. Kartu telah berfungsi sebagai hiburan yang menyenangkan, pertaruhan, alat praktik okultisme, trik sulap, dan model probabilitas matematika — bahkan, kadang-kadang, sebagai mata uang dan sebagai media untuk pesan rahasia.

Dalam prosesnya, tumpukan kartu mengungkapkan keanehan asal-usulnya. Nama kartu, warna, emblem, dan desain berubah sesuai dengan asal dan keinginan dari para pemain kartu itu sendiri. Semua ini bukan hanya mainan, atau alat. Mereka adalah jejak budaya yang mengungkapkan sebuah trend.

♣♦♥♠

Tempat kelahiran kartu remi diselimuti ketidakjelasan dan banyak spekulasi, tetapi — seperti bubuk mesiu atau teh atau porselen — mereka hampir pasti berasal dari Timur. ”Para ahli dan sejarawan terpecah berdasarkan asal-usul dari kartu remi,” jelas Gejus Van Diggele, ketua International Playing-Card Society, atau IPCS, di London. “Tapi mereka umumnya setuju bahwa kartu disebarkan dari Timur ke Barat.”

Gulungan dari Dinasti Tang Cina menyebutkan adanya permainan menggunakan ubin dari kertas (meskipun ini lebih mirip kartu domino modern daripada kartu), dan para ahli menganggap ini sebagai dokumentasi tertulis pertama dari permainan kartu. Sejumlah referensi sastra Eropa pada akhir abad ke-14 menunjuk pada kedatangan “permainan Saracen” yang tidak terduga, menunjukkan bahwa kartu datang bukan dari Tiongkok tetapi dari Arab. Namun hipotesis lain berpendapat bahwa perantau membawa kartu peramal dari India, membuat kartu menjadi lebih antik dan memiliki sejarah yang panjang. Apa pun itu, jalur perdagangan membawa permainan kartu dari Timur menuju benua Eropa.

Old Playing Cards

Di Eropa abad pertengahan, permainan kartu kadang-kadang dilakukan dengan minum-minum, berjudi, dan sejumlah kejahatan lainnya yang membuat para penipu berbuat ulah. Bermain kartu menjadi begitu luas dan mengganggu sehingga pihak berwenang melarangnya. Dalam bukunya The Game of Tarot, sejarawan Michael Dummett menjelaskan bahwa 1377 peraturan melarang permainan kartu pada hari kerja di Paris. Larangan serupa diberlakukan di seluruh Eropa ketika para pengkhotbah berusaha mengatur permainan kartu, yakin bahwa “buku bergambar Setan” hanya menuntun pada kehidupan yang menhancurkan.

Semua orang bermain kartu: raja-raja dan para pejabat, ulama, biarawan dan wanita bangsawan, pelacur, pelaut, tahanan. Tetapi para penjudi adalah yang bertanggung jawab atas beberapa fitur paling menonjol dari deck modern yang ada saat ini.

Deck 52 kartu menggambarkan 4 seragam dari Prancis: clubs/keriting (♣), diamond/wajik (♦), heart/hati (♥), dan spade/sekop (♠). Simbol-simbol grafis ini, atau “pips“, memiliki sedikit kemiripan dengan barang-barang yang mereka wakili, tetapi mereka lebih mudah untuk disalin daripada motif yang lebih mewah. Secara historis, pips sangat bervariasi, memberi jalan ke berbagai simbol yang berakar pada geografi dan budaya. Dari bintang dan burung ke gelas dan penyihir, pips mengandung makna simbolis, seperti kartu truf dari kartu tarot yang lebih tua. Tidak seperti tarot, bagaimanapun itu, pips ditujukan sebagai pengalihan bukan ramalan. Meski begitu, kartu-kartu ini menyimpan banyak ikonografi yang telah memesona Eropa abad ke-16: astronomi, alkimia, mistisisme, dan sejarah.

Beberapa sejarawan berpendapat bahwa setelan di deck dimaksudkan untuk mewakili empat kelas masyarakat pada Abad Pertengahan. Cawan dan Piala (hati) mungkin berdiri untuk pendeta; pedang (sekop) untuk bangsawan atau militer; koin (wajik) untuk pedagang; dan tongkat (clubs/keriting) untuk petani. Tetapi perbedaan dalam pips dari satu deck ke yang lainnya menolak kategorisasi tersebut. Lonceng, misalnya, ditemukan dalam “kartu berburu” di Jerman. Pips ini akan menjadi simbol yang lebih pas dari bangsawan Jerman daripada sekop, karena lonceng sering melekat pada elang, olahraga yang disediakan untuk orang-orang kaya di Rhineland. Berlian, sebaliknya, bisa mewakili kelas atas di deck Prancis, karena batu-batu paving yang digunakan di gereja-gereja berbentuk berlian, dan batu-batu semacam itu menandai kuburan orang-orang aristokrat yang mati.

Tetapi bagaimana menjelaskan penggunaan semanggi, biji, daun, tombak, perisai, koin, mawar, dan gambar lain yang tak terhitung jumlahnya? “Ini adalah bagian dari cerita rakyat,” kata Paul Bostock, seorang anggota dewan IPCS, kepada saya. “Saya tidak percaya kartu awal direncanakan secara logis.” Penjelasan yang lebih mungkin untuk tanda pada setelan, katanya, adalah bahwa kartu-kartu tersebut adalah permintaan dari keluarga kaya. Pilihan pips dengan demikian bisa dianggap sebagai cermin dari selera dan keinginan para bangsawan.

♣♦♥♠

18 Century French Playing Cards

Walaupun pips sangat bervariasi, kartu bergambar wajah (face cards) sebagian besar tetap tidak berubah selama berabad-abad. Deck kartu Inggris dan Prancis, misalnya, selalu menampilkan empat raja legendaris yang sama: Charles, David, Caesar, dan Alexander the Great. Bostock mencatat bahwa ratu belum mendapatkan perlakuan yang sama. Pallas, Judith, Rachel, dan Argine masing-masing memegang kendali atas masing-masing simbol yang mereka duduki. Saat Spanyol mengadopsi permainan kartu, mereka mengganti ratu dengan ksatria berkuda atau caballeros . Dan Jerman membuang ratu dari deck mereka secara penuh, mebagi kartu wajah menjadi könig (raja), obermann (upper-man), dan untermann (lower-man) – atau yang dikenal dengan Jacks pada saat ini. Prancis memperkenalkan kembali sang ratu, sementara Inggris sangat menyukai mereka, mereka membuat “British Rule,” sebuah variasi yang menukar nilai kartu raja dan ratu jika raja yang memerintah Inggris adalah seorang wanita.

Ace naik ke jajaran permainan kartu pada tahun 1765 menurut IPCS. Tahun tersebut adalah tahun Inggris mulai mengenakan pajak penjualan kartu remi. Kartu As/Ace dicap untuk menunjukkan bahwa pajak telah dibayar, dan memalsukan kartu as adalah kejahatan yang dapat dihukum mati. Sampai hari ini, kartu as dirancang dengan desain paling menonjol.

Raja Hati/the King of Hearts menimbulkan berbagai pertanyaan: Satu-satunya raja tanpa kumis, digambarkan bunuh diri dengan pedang menancap di kepala. Penjelasannya sebagai “raja yang bunuh diri/suicide-king” lebih sederhana dan mudah dimengerti. Ketika pencetakan mendorong reproduksi deck yang cepat, integritas karya seni yang asli mulai menurun. Ketika blok untuk mencetak mulai usang, Paul Bostock menjelaskan, pembuat kartu akan membuat set baru dengan menyalin blok atau kartu. Proses ini memperbesar kesalahan yang terjadi sebelumnya. Akhirnya, ujung pedang Raja kita yang malang perlahan-lahan mulai menghilang.

Itulah asal-usul mengenai permainan kartu yang sekarang ini kita masih sering mainkan bersama teman-teman. Di Indonesia dikenal dengan nama Kartu Remi yang diusung dari kata Playing Cards. Tidak ada salahnya kita mengenal sejarah dan asal-usul dari Kartu sebelum kita memainkannya, menarik bukan?

This entry was posted in Serba Serbi Kartu. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *